Potensi Daerah

A+ A A-

Perindustrian

a.     Industri

Sektor industri di Kabupaten Wonosobo cukup potensial untuk dikembangkan. Berdasarkan unit usaha, industri di Kabupaten Wonosobo yang terbanyak adalah industri gula kelapa, disusul industri anyaman bambu, industri pembuatan tempe, industri anyaman mendong dan industri pembuatan opak. Jika ditinjau dari nilai produksinya, maka industri makanan/minuman lain menempati urutan pertama, diikuti industri makanan, industri teralis dan industri gula kelapa. Pada tahun 2011 jumlah kapasitas nilai produksi sektor industri di Kabupaten Wonosobo mencapai 416,66 milyar rupiah dengan tenaga kerja yang terserap berjumlah 24.231 orang. Adapun jenis produksi yang dihasilkan dari sektor ini meliputi industri pangan, sandang dan kulit, kimia dan industri, kerajinan umum serta logam.

b.     Perdagangan

Nilai ekspor non migas yang berasal dari Kabupaten Wonosobo tahun 2011 sebesar 34.789.774,78 US$ meningkat sebesar 47,94% dibanding tahun 2010. Kontribusi terbesar disumbangkan oleh kayu olahan sebesar 94,21% disusul komoditas teh hijau sebesar 5,14%.

Sedangkan untuk pengembangan infrastruktur perdagangan yang terkait dengan pembangunan dan rehabilitasi pasar sampai tahun 2011 jumlah pasar daerah ada 19 buah dengan daya tampung (kios, los, PKL) sebesar 3.278 buah, sedangkan jumlah pasar desa sampai 2011 ada 39 buah dengan daya tampung (kios, los, PKL) sejumlah 4.331 buah.

c.     Koperasi

Jumlah koperasi di Kabupaten Wonosobo tahun 2011 sebanyak 332 buah dengan jumlah anggota mencapai 38.925 orang. Jenis koperasi terbanyak adalah koperasi serba usaha dan koperasi pegawai negeri masing-masing 67 buah serta koperasi pertanian 46 buah. Jumlah anggota koperasi mencapai 38.925 orang dengan modal usaha 232.796.998 dan volume usaha 331.239.286.

 

 

Produk Domestik regional Bruto (PDRB) menurut Lapangan Usaha,

PDRB/Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Atas Dasar Harga Berlaku

Kabupaten Wonosobo Tahun 2009-2011      (Jutaan Rupiah)

 

Lapangan Usaha

PDRB ADH Berlaku

2009

2010

2011

1.

Pertanian

1.699.657,09

1.863.379,76

2.050.428,96

 

a.

Tanaman Bahan Makanan

1.206.161,79

1.319.773,55

1.440.488,86

 

b.

Perkebunan

91.890,85

100.500,25

116.750,31

 

c.

Peternakan

256.456,22

285.999,94

318.509,77

 

d.

Kehutanan

118.984,65

128.715,62

143.967,31

 

e.

Perikanan

26.163,59

28.390,40

30.712,71

2.

Pertambangan & Penggalian

21.431,98

22.232,01

23.537,91

 

a.

Pertambangan

0,00

0,00

0,00

 

b.

Penggalian

21.431,98

22.232,01

23.537,91

3.

Industri Pengolahan

378.024,48

392.650,22

431.117,47

 

a.

Industri Besar/Sedang

273.192,84

280.542,84

308.027,13

 

b.

Industri Kecil/Kerajinan Rumah Tangga

104.831,64

112.107,38

123.090,34

4.

Listrik, Gas dan Air Bersih

33.101,80

36.231,24

39.224,59

 

a.

Listrik

28.259,61

30.838,33

33.220,68

 

b.

Air Bersih

4.842,19

5.392,91

6.003,91

5.

Bangunan/Konstruksi

146.478,14

161.143,62

176.687,81

6.

Perdagangan, Hotel & Restoran

439.987,10

482.915,99

531.653,86

 

a.

Perdagangan

401.536,56

441.154,83

486.093,80

 

b.

Hotel

7.380,90

8.051,65

8.767,81

 

c.

Restoran

31.069,64

33.709,50

36.792,26

7.

Angkutan & Komunikasi

231.463,57

253.397,59

276.027,16

 

a.

Angkutan Jalan Raya

207.261,10

226.231,36

245.509,25

 

 

-          Angkutan Jalan Raya

207.261,10

226.231,36

245.509,25

 

 

-          Angkutan Udara

0,00

0,00

0,00

 

b.

Jasa Penunjang Angkutan

148,27

160,00

169,76

 

c.

Komunikasi

24.054,19

27.006,23

30.348,15

 

 

-          Pos & Telekomunikasi

24.054,19

27.006,23

30.348,15

 

 

-          Jasa Penunjang Telekomunikasi

0,00

0,00

0,00

8.

Bank, Lembaga Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

217.061,79

237.918,85

262.783,50

 

a.

Bank

61.679,36

67.764,92

76.437,45

 

b.

Lembaga Keuangan Bukan Bank

19.144,30

21.384,23

24.005,15

 

c.

Sewa Bangunan

134.723,68

147.132,15

160.573,36

 

d.

Jasa Perusahaan

1.514,46

1.637,54

1.767,53

9.

Jasa-jasa

417.006,96

477.411,63

531.793,61

 

a.

Pemerintahan

382.183,11

439.629,52

491.294,27

 

b.

Swasta

34.823,86

37.782,11

40.499,34

 

 

-          Sosial Kemasyarakatan

14.018,19

15.548,84

17.135,98

 

 

-          Hiburan & Rekreasi

694,50

751,99

791,61

 

 

-          Perorangan & Rumah Tangga

20.111,16

21.481,28

22.571,76

PDRB

3.584.212,92

3.927.280,91

4.323.254,88

PDRB per Kapita (Rupiah)

4.553.659,76

5.203.778,08

5.696.040,79

Pertumbuhan Ekonomi (%)

7,57

9,57

10,08

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonosobo , 2012

 

Produk Domestik regional Bruto (PDRB) menurut Lapangan Usaha,

PDRB/Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Atas Dasar Harga Konstan

Kabupaten Wonosobo Tahun 2009-2011 (Jutaan Rupiah)

Lapangan Usaha

PDRB ADH Berlaku

2009

2010

2011

1.

Pertanian

883.489,58

918.463,99

947.303,33

 

a.

Tanaman Bahan Makanan

632.216,04

654.879,73

668.435,74

 

b.

Perkebunan

53.549,72

56.339,66

60.429,92

 

c.

Peternakan

127.124,13

134.306,64

142.485,91

 

d.

Kehutanan

55.199,96

57.054,67

59.468,09

 

e.

Perikanan

15.399,73

15.883,29

16.483,67

2.

Pertambangan & Penggalian

12.433,72

12.461,07

12.518,40

 

a.

Pertambangan

0,00

0,00

0,00

 

b.

Penggalian

12.433,72

12.461,07

12.518,40

3.

Industri Pengolahan

193.794,50

197.825,43

205.659,34

 

a.

Industri Besar/Sedang

130.813,27

132.841,41

137.796,39

 

b.

Industri Kecil/Kerajinan Rumah Tangga

62.981,23

64.984,02

67.862,95

4.

Listrik, Gas dan Air Bersih

12.440,24

13.144,29

13.843,81

 

a.

Listrik

9.971,49

10.457,42

10.937,41

 

b.

Air Bersih

2.468,75

2.686,88

2.906,39

5.

Bangunan/Konstruksi

75.569,28

80.178,24

85.181,36

6.

Perdagangan, Hotel & Restoran

216.650,94

228.138,29

243.104,81

 

a.

Perdagangan

195.356,14

205.870,95

219.520,19

 

b.

Hotel

4.293,18

4.520,95

4.784,97

 

c.

Restoran

17.001,62

17.746,40

18.799,65

7.

Angkutan & Komunikasi

112.488,81

118.686,95

126.888,11

 

a.

Angkutan Jalan Raya

98.982,35

104.020,35

110.621,49

 

 

-          Angkutan Jalan Raya

98.982,35

104.020,35

110.621,49

 

 

-          Angkutan Udara

0,00

0,00

0,00

 

b.

Jasa Penunjang Angkutan

82,11

85,13

88,49

 

c.

Komunikasi

13.424,35

14.581,46

16.178,13

 

 

-          Pos & Telekomunikasi

13.424,35

14.581,46

16.178,13

 

 

-          Jasa Penunjang Telekomunikasi

0,00

0,00

0,00

8.

Bank, Lembaga Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

112.138,48

117.397,77

124.582,45

 

a.

Bank

37.509,71

39.782,43

43.211,67

 

b.

Lembaga Keuangan Bukan Bank

10.917,22

11.639,72

12.449,85

 

c.

Sewa Bangunan

62.851,44

65.076,38

67.982,04

 

d.

Jasa Perusahaan

860,10

899,23

938,89

9.

Jasa-jasa

192.087,12

202.512,24

215.032,56

 

a.

Pemerintahan

175.152,17

184.773,47

196.247,90

 

b.

Swasta

16.934,94

17.738,77

18.784,66

 

 

-          Sosial Kemasyarakatan

7.244,52

7.608,20

8.196,31

 

 

-          Hiburan & Rekreasi

402,23

420,69

438,62

 

 

-          Perorangan & Rumah Tangga

9.288,19

9.709,88

10.149,73

PDRB

1.811.092,67

1.888.808,28

1.974.114,17

PDRB per Kapita (Rupiah)

2.300.951,42

2.502.733,92

2.600.964,92

Pertumbuhan Ekonomi (%)

4,02

4,29

4,52

 

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonosobo , 2012

Kependudukan

Hasil regristasi penduduk akhir tahun 2012, jumlah penduduk Kabupaten Wonosobo adalah sebanyak 773.243 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 391.882 jiwa dan perempuan 381.361 jiwa dengan rasio jenis kelamin 102,76.

Bila dilihat per kecamatan, jumlah penduduk terbersar adalah di Kecamatan Wonosobo yaitu sebanyak 86,076 jiwa, disusul Kecamatan Kertek sebesar 77.882 jiwa, sedangkan kecamatan yang jumlah penduduknya paling sedikit adalah Kecamatan Kalibawang yaitu 22.801 jiwa. 

Kepadatan penduduk di Kabupaten Wonosobo tahun 2012 sebesar 785 jiwa per KM2. Bila dilihat per kecamatan, angka kepadatan penduduk cukup bervariasi. Angka kepadatan penduduk yang palng tinggi terdapat di Kecamatan Wonosobo sebesar 2.658 jiwa per KM2 sedangka yang paling rendah di Kecamatan Wadaslintang sebesar 421 jiwa per KM2.

Komposisi penduduk Kabupaten Wonosobo termasuk penduduk muda. Hal ini terlihat dari banyaknya penduduk yang berada di kelompok usia muda, tertinggi di kelompok usia 10-14 tahun sebanyak 72.460 jiwa, disusul kelompok usia 5-9 tahun sebanyak 68.516 jiwa, dan kelompok usia 0-4 tahun sebanyak 68.287 jiwa.

Pengendalian laju pertumbuhan penduduk, salah satunya ditempuh melalui program Keluarga Berencana (KB). Kesadaran masyarakat untuk mengikuti program Keluarga Berencana semakin tinggi, terlihat dari meningkatnya persentase jumlah peserta KB dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2012 sebanyak 135.999 (82,07%), pasangan usia subur menjadi peserta KB dari total pasangan usia subur yang sebanyak 165.707 pasangan. Pada tahun 2011 tercatat 134.515 peserta KB dari 165.752 pasangan usia subur. Penurunan pasangan usia subur pada tahun 2012 dibanding tahun 2011 sebanyak 45 atau -0,03 persen, sedangkan peserta KB naik sebesar 1,10 persen. Dari 135.999 peserta KB, sebanyak 53.768 atau 39,54 persen menggunakan Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih (MKET). Banyaknya peserta KB juga diimbangi dengan fasilitas pelayanan/klinik KB yang mengalami peningkatan dibanding tahun 2011.

Ditinjau dari segi sosial ekonomi, kondisi kesejahteraan masyarakat semakin meningkat, terindikasi dengan menurunnya jumlah keluarga yang masuk kategori pra sejahtera dan sejahtera I. Dari 238.400 keluarga di Kabupaten Wonosobo, sebanyak 24,65 persen masuk kategori keluarga pra sejahtera dan 18,59 persen keluarga sejahtera I. Hal ini bisa disimpulkan bahwa sosial ekonomi masyarakat Kabupaten Wonosobo secara umum masih rendah.

 

Persentase Keluarga Sejahtera Menurut Tipe, 2012

 

  

Kesehatan

                Status kesehatan dan gizi masyarakat diukur dari umur harapan hidup (UHH), angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), dan prevalensi kekurangan gizi pada balita terus menunjukkan perbaikan selama kurun waktu lima tahun terakhir. Sementara fasilitas kesehatan yang tersedia di Kabupaten Wonosobo pada tahun 2011 adalah 3 rumah sakit, 7 rumah bersalin, 8 klinik, 23 puskesmas, 46 puskesmas pembantu dan 1.311 posyandu yang didukung tenaga paramedis sebanyak 98 dokter, 15 dokter gigi, 278 perawat, 347 bidan dan 128 tenaga medis lainnya.

Pendidikan

Keberhasilan pembangunan pendidikan dapat dilihat dari Angka Partisipasi Kasar, Angka Partisipasi Murni dan angka drop out serta angka buta aksara.

 

APK maupun APM untuk semua jenjang pendidikan di Kabupaten Wonosobo dalam lima tahun terakhir ada kecenderungan semakin meningkat. Sedangkan angka drop out atau putus sekolah pada semua jenjang pendidikan cenderung mengalami penurunan, demikian pula untuk buta aksara selalu mengalami penurunan di mana pada tahun 2010 sudah berkurang menjadi 0,03%.     

 

Kesadaran masyarakat tentang pendidikan semakin meningkat. Hal ini terlihat dari meningkatnya sarana dan jumlah murid di tingkat pendidikan anak usia dini sampai pendidikan lanjutan. Jumlah sekolah dan guru TK pada tahun ajaran 2011/2012 mengalami penurunan dibanding tahun ajaran sebelumnya, tetapi jumlah murid mengalami peningkatan. 

 

Sedangkan murid tingkat pendidikan dasar, baik dilingkungan Kementerian Pendidikan Nasional maupun Kementrian Agama mengalami penurunan sebesar 2,70 persen. Penduduk yang mengikuti pendidikan tinggkat SLTP sebanyak 34.622 mengalami kenaikan sebesar 0,97 persen dibanding tahun ajaran sebelumnya. Jumlah sekolah SMA dan MA tetap, jumlah murid relatif sama. Sedangkan jumlah murid SMK sebanyak 8.981 mengalami peningkatan 18.60 persen diiuti jumlah sekolah naik menjadi 23 sekolah yang pada tahun sebelumnya 18 sekolah.

 

 

Rasio murid guru di lingkungan SD Negeri sebesar 17,34 di SD swasta 16,65 di MI negeri 15,83 di MI swasta sebesar 12,47. Berkurangnya jumlah guru tidak berpengaruh terhadap menurunnya jmlah anak yang drop out di tingkat pendidikan dasar. 

Sedangkan jumlah guru di tingkat SLTP sebanyak 2.320 orang atau naik 0,26 persen, tetapi jumlah murid SLTP yang drop out sebanyak 120 siswa pada tahun ajaran 2011/2012 mengalami penurun yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya sebanyak 178 orang. Siswa yang drop out di tingkat SLTA sebanyak 199 siswa.

 

Potensi Investasi Kabupaten Wonosobo

A.   PRODUK PERTANIAN DAN PERKEBUNAN

1.     Kentang

A.     Lokasi : Kentang tumbuh sebagian besar di dataran tinggi saja, meliputi Kecamatan Kejajar, Garung dan Kertek. Sentra kentang terdapat di Kecamatan Kejajar, dengan produksi 47.711 ton/tahun

B.    Kapasitas : Produksi kentang Kabupaten Wonosobo selama 10 (sepuluh) tahun terakhir rata-rata mencapai 49.481 ton/tahun, dengan luas lahan yang dimanfaatkan untuk tanaman kentang adalah 3.013 ha

C.    Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain

D.    Keterangan : Memiliki potensi untk ekspor

 

 

 

2.     Ubi kayu/ketela pohon

A.     Lokasi : ubi kayu tumbuh dengan baik di 14 kecamatan di wilayah Kabupaten Wonosobo. Sentra produksi ubi kayu di Kecamatan Kaliwiro, Wadaslintang, Garung, Sukoharjo, Watumalang dan Mojotengah.

B.     Kapasitas : Luas panen rata-rata 5 tahun terakhir 6.828 Ha tersebar di 12 bulan sepanjang tahun.  Produktivitas mencapai 19,79 ton/Ha sehingga total produksi rata-rata 135.099 ton. Potensi peningkatan produksi masih sangat terbuka, baik melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi. Dengan peningkatan intensifikasi diharapkan dapat terjadi peningkatan produktivitas menjadi 40 -50 ton/Ha. Melalui ekstensifikasi dimanfaatkan lahan-lahan potensial diharapkan luas panen dapat meningkat menjadi 10.000 - 12.500 Ha/tahun. Sehingga dihasilkan produksi antara 400.000 - 625.000 ton/Ha.

C.    Pemasaran : Daerah sendiri dan lain

D.    Keterangan : Varietas yang banyak dikembangkan adalah varietas unggul nasional yang sudah ditanam turun-menurun seperti plengka, klanteng, hijau, jawa, bogor, mentega dan lain-lain. Sistem pertanaman adalah tumpang sari dan monokultur.  

3.     Carica

A.     Lokasi : Hanya Tumbuh di Pegunungan Dieng, Kejajar.

B.     Kapasitas : Luas lahan saat ini ± 115,77 ha. Carica saat ini dimanfaatkan untuk usaha home industri, namun kontinuitas ketersediaan bahan bakunya belum terjamin. Kondisi pertanaman saat ini 30.000 batang, potensi pengembangan ± 120.000 batang dengan cara monokultur, tanaman sela/tumpang sari dan terasering.

C.    Pemasaran : Daerah sendiri dan lain

D.    Keterangan : Carica adalah sejenis pepaya khas pegunungan, di dunia hanya tumbuh di 3 tempat, Indonesia (Pegunungan Dieng), Rusia dan Argentina.

 

 

 

 

 

 

 

4.     Kopi Arabica

A.     Lokasi : Wilayah Produksi  Kecamatan Mojotengah, Watumalang,Kertek,Garung,      Kejajar, KalIkajar

B.     Kapasitas : 124.800ton/tahun,ketersediaan Lahan  : 3500 Ha

C.    Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain

 

5.     Tanaman Ubi Jalar

Produksi ubi jalar selama 10 tahun terkahir rata-rata 10.168,69 ton/tahun, dengan luas lahan 789,91 ha, yang menyebar diseluruh kecamatan, selain Kecamatan Sukoharjo. Sentra ubi jalar di Wonosobo berada di Kecamatan Kertek dan potensi pengembangan yang prospektif di Kecamatan Sapuran, Kalikajar dan Garung.Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain

 

6.     Teh

Di wonosobo terdapat Perkebunan Teh, yang dikelola oleh PT.Perkebunan Tambi, dan telah mengalami perkembangan khususnya dalam paket wisata yaitu Agrowisata Tambi Kejajar dan Tanjungsari Sapuran. Pengunjung dapat menikmati panorama indah perkebunan teh, dan juga berbagai fasilitas homestay yang memadai. Paket tea walk, permainan out bond, olah raga lapangan dan hiburan.

PT.Perkebunan Tambi selaku pengelola agrowisata ini memiliki 3 unit perkebunan (up) yaitu UP Bedakah di Kertek, UP Tambi di Kejajar, UP Tanjungsari di Sapuran. Dengan luas HGU seluas 778,43 ha dan HGB 7,4 ha. Pemasaran : Daerah sendiri, lain dan ekspor.

 

7.     Tanaman Purwaceng

Tanaman Purwaceng hanya bisa ditanam di ketinggian lebih dari 1.400 dpl  yakni di Kecamatan Kejajar, dan hanya di tempat-tempat tertentu, seperti di Desa Sikunang, Kejajar. Tanaman ini diolah menjadi minuman untuk menjaga kesehatan dan stamina. Biasanya dioalh dalam bentuk Teh Purwaceng, Kopi Purwaceng dan Purwaceng Susu. Menurut Penelitian dari berbagai laboratorium Perguruan Tinggi, khasiat tanaman ini melebihi tanaman ginseng. Sejauh ini tanaman ini banyak diminati oleh perorangan maupun perusahaan jamu. Luas area produksi tanaman ini sekitar 0,5 ha pada tahun 2008 dengan produksi mencapai 0,31 ton.

8.     Wasabi

Tumbuh baik di daerah Kecamatan Garung dan Kejajar, merupakan komoditi sayuran yang banyak diekspor ke Jepang.

9.     Jagung

Jagung hibrida jenis unggul sangat cocok di hampir semua wilayah di Wonosobo. Produktivitasnya mencapai 4,2 ton/ha, sedangkan luasan lahan jagung yang ada kurang lebih 31.653 ha pada tahun 2008. Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain

10.   Bawang Merah

Bawang Merah varietas Filiphina ternyata sangat cocok di daerah Kejajar (Dieng dan sekitarnya). Merupakan tanaman alternative pengganti kentang. Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain

11.   Tembakau

Luas area lahan tembakau pada tahun 2009 sekitar 3.466.850 ha di Kecamatan Kalikajar, Kertek, Watumalang, Mojotengah, Garung, Kejajar, Wonosobo, dengan produksi pada tahun 2009 mencapai 1.683.466 ton. Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain

12.   Kelapa

Tahun 2009 jumlah produksi mencapai 3.037,5 ton. Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain

13.   Kopi Robusta

Tahun 2009 jumlah produksi mencapai 354 ton. Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain

14.   Kakao

Tahun 2009 jumlah produksi mencapai 50,2 ton. Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain

15.   Nanas

Nanas di Desa Duren sawit Kecamatan Leksono menjadi salah satu andalan dengan karakter buah yang khas dan terbaik di Pulau Jawa. Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain

16.   Vanili

Banyak dibudidayakan di Kecamatan Sapuran, Kepil, Sukoharjo, Kalibawang dan Kaliwiro. Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain

17.   Durian Varietas unggul

Salah satu produk pertanian unggulan di Selomerto, Leksono dan Sukoharjo.

18.   Tanaman Kacang Tanah

Produksi kacang tanah selama 10 tahun terkahir rata-rata 353,06 ton/tahun, dengan luas lahan 304,78 ha. Sentra kacang tanah berada di Kecamatan Wadaslintang dan dengan potensi pengembangan yang prospektif di Kecamatan Sapuran, Kepil, Kalibawang dan Kaliwiro.Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain

19.   Tanaman Bawang Daun

Produksi bawang daun selama 10 tahun terakhir rata-rata 12.327 ton/tahun, dengan luas lahan 1.114 ha. Sentra bawang daun berada di Kecamatan Kejajar, dengan potensi pengembangan di Kecamatan Garung, Kertek, Kalikajar, Sapuran dan Kepil.Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain

20.   Tanaman Kubis

Produksi kubis selama 10 tahun terakhir rata-rata 70.617 ton/tahun, dengan luas lahan 3.257 ha. Sentra kubis berada di Kecamatan Kejajar, dengan potensi pengembangan di Kecamatan Garung, Kertek, Kalikajar dan Kepil.Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain

21.   Tanaman Cabai Besar

Produksi cabai besar selama 10 tahun terakhir rata-rata 4.747,7 ton/tahun, dengan luas lahan 625,75 ha. Sentra cabai besar berada di Kecamatan Kalikajar, dengan potensi pengembangan di Kecamatan Mojotengah, Kertek, Selomerto dan Kepil.Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain

22.   Tanaman Pisang

Produksi pisang selama 10 tahun terakhir rata-rata 14.225,22 ton/tahun, dengan luas lahan 2.074,78 ha dan sentra pisang berada di Kecamatan Kaliwiro. Potensi pengembangan yang prospektif berada di Kecamatan Selomerto, Kepil, Kalikajar dan Leksono.Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain

23.   Tanaman Salak

Produksi salak selama 10 tahun terakhir rata-rata 14.338,47 ton/tahun, dengan luas lahan 3.157,19 ha dan sentra salak berada di Kecamatan Sukoharjo. Jenis Salak yang dihasilkan antara lain Salak Lokal, Pondoh, organic dan Gading. Potensi pengembangan yang prospektif berada di Kecamatan Selomerto, Leksono, Kaliwiro dan Watumalang.Pemasaran : Daerah sendiri dan daerah lain.

24.   Potensi Florikultur

Berbagai jenis bunga dan tanaman hias, seperti sansiviera dan bunga krisan, sangat cocok dan berkembang biak dengan baik di daerah pegunungan. Selain untuk menambah estetika, juga untuk memiliki nilai ekonomi tinggi.

 

B.   PRODUK USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM)

1.     Kerajinan Botol Lukis

Bisa dijumpai di daerah Sambek Kecamatan Wonosobo

2.     Batik

Batik sebagai pesona khas budaya bangsa Indonesia, juga mulai berkembang di Wonosobo, khususnya di Desa Talunombo, Sapuran dan Kelurahan Kertek Kecamatan Kertek dengan ciri khas corak flora Wonosobo (daun dan bunga purwaceng, carica) serta corak kerajinan topeng.

3.     Pengrajin Sepatu, tas dan jaket kulit

Bisa dijumpai di Desa Klilin, Kecamatan Kalikajar.

4.     Pengrajin teralis

Banyak dijumpai di Kelurahan Jlamprang, Kecamatan Wonosobo, dengan jumlah pengrajin hampir seratusan pengrajin, dan ada juga di Kecamatan Mojotengah.

5.     Usaha pengolahan Ketela Pohon

Ubi kayu tumbuh dengan baik di 14 Kecamatan di Wilayah Kabupaten Wonosobo. Sentra produksi ubi kayu di Kecamatan Kaliwiro, Wadaslintang, Garung, Sukoharjo, Watumalang dan Mojotengah.

Varietas yang banyak dikembangkan adalah varietas unggul nasional yang sudah ditanam turun-menurun seperti plengka, klanteng, hijau, jawa, bogor, mentega dan lain-lain.

Sistem pertanaman adalah tumpang sari dan monokultur. Luas panen rata-rata 5 tahun terakhir 6.828 Ha tersebar di 12 bulan sepanjang tahun. Produktivitas mencapai 19,79 ton/Ha sehingga total produksi rata-rata 135.099 ton.

Potensi peningkatan produksi masih sangat terbuka, baik melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi. Dengan peningkatan intensifikasi diharapkan dapat terjadi peningkatan produktivitas menjadi 40 -50 ton/Ha. Melalui ekstensifikasi dimanfaatkan lahan-lahan potensial diharapkan luas panen dapat meningkat menjadi 10.000 - 12.500 Ha/tahun. Sehingga dihasilkan produksi antara 400.000 - 625.000 ton/Ha.

Kontinuitas Produksi                           : 147.122 ton/th

Ketersidaan lahan                               : 6.561 ton/th

6.     Usaha pengolahan Kentang

Kentang merupakan komoditas unggulan Kabupaten Wonosobo yang pemasarannya sudah merambah di beberapa kota besar dan ke luar Pulau Jawa. Kentang tumbuh sebagian besar di dataran tinggi saja, meliputi Kecamatan Kejajar, Garung dan Kertek. Produksi kentang Kabupaten Wonosobo selama 10 (sepuluh) tahun terakhir rata-rata mencapai 49.481 ton/tahun, dengan luas lahan yang dimanfaatkan untuk tanaman kentang adalah 2.950 ha. Sentra kentang terdapat di Kecamatan Kejajar, dengan produksi 47.711 ton/tahun

Proyek yang ditawarkan adalah pembangunan pabrik pengolahan tepung makanan berbahan baku kentang.

Kontinuitas Produksi                           : 44.467,5 ton/th

Ketersidaan lahan                               : 3.013 ha/th

7.     Usaha Pengolahan Carica

Sejenis pepaya khas pegunungan, di dunia hanya tumbuh di 3 tempat, Indonesia (Pegunungan Dieng), Rusia dan Argentina. Luas lahan saat ini ± 115,77 ha. Carica saat ini dimanfaatkan untuk usaha home industri, namun kontinuitas ketersediaan bahan bakunya belum terjamin.

Kondisi pertanaman saat ini 30.000 batang, potensi pengembangan ± 120.000 batang dengan cara monokultur, tanaman sela/tumpang sari dan terasering.

- Kontinuitas Produksi                        : 300 Ton/tahun

                - Kebutuhan Bahan Baku                  : 2.160 Ton/tahun

                - Ketersediaan Lahan                         : 20-50 Ha

8.     Usaha Pengolahan Kelapa

Luas lahan yang dimanfaatkan untuk tanaman kelapa di Kabupaten Wonosobo adalah 5.275,7 ha, dengan perincian lahan untuk kelapa sayur seluas 4.940 ha (2.844 ton/tahun), dan kepala deres 335,7 ha (360,9 ton/tahun). Potensi tersebut masih dapat dikembangkan, dengan luas lahan menjadi 7.000 ha, yang tersebar di Kecamatan Selomerto, Leksono, Sukoharjo, Kaliwiro, Wadaslintang, dan Kepil. Saat ini produksi kelapa Wonosobo sebagian besar untuk memenuhi permintaan kebutuhan rumah tangga, industri kecil dan dipasarkan ke luar daerah. Belum adanya industri berbahan baku kelapa dalam skala menengah/besar, menjadikan usaha budidaya tanaman kelapa kurang optimal

Peluang investasi yang ditawarkan adalah pengolahan daging kelapa menjadi beberapa alternatif produk, antara lain santan instan dan kelapa parut kering, serta pengolahan limbah air kelapa menjadi nata de coco maupun serat nata. Sedangkan tempurung kelapa diolah menjadi arang tempurung (charcoal) dan serabutnya diolah menjadi coco fibre dan coco dust.

 

9.     Usaha Pengolahan Bambu Cendani

Bambu cendani merupakan tanaman sejenis bambu yang tumbuh di daerah pegunungan. Di Wonosobo, bambu cendani dimanfaatkan sebagai tanaman penguat tanggul dan lereng lahan pertanian. Pemanfaatan sebagai bahan kerajinan bambu sebatas hiasan dinding, gagang alat pancing dan tongkat. Oleh masyarakat Desa Tambi, bambu cendani dijadikan bahan kerajinan yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi, yaitu menjadi perabot dan peralatan rumah tangga, hiasan dinding, dan pernik-pernik lainnya, dengan pemasaran hingga ke Pulau Bali.

10.   Usaha Alat Pertanian

Seperti di daerah lain, di Kabupaten Wonosobo juga terdapat industri alat pertanian berupa sabit, cangkul, pisau, gobang, dengan memanfaatkan limbah besi yang diolah secara tradisional. Di samping untuk memenuhi pasaran lokal, kerajinan tersebut sudah dipasarkan ke luar daerah, terutama Sumatera dan Kalimantan. Sentra pengrajin alat pertanian berada di Desa Sumberdalem Kecamatan Kertek dan Desa Krasak Kecamatan Mojotengah.

11.   Usaha Pengolahan Makanan dan Minuman Khas

Industri makanan khas di Wonosobo yang terkenal yaitu kripik jamur. Makanan khas tersebut berbahan baku jamur (mushroom) dan diolah secara tradisional. Pemasarannya sudah merambah ke kota-kota besar di Pulau Jawa. Dengan tidak beroperasinya PT. Dieng Djaya, salah satu industri penyedia jamur di Wonosobo, ketersediaan bahan baku jamur menjadi kendala bagi sebagian besar industri rumah tangga kripik jamur, sehingga harus mendatangkan jamur dari luar daerah.

Ada juga kacang dieng, opak, rengginang, kripik kentang, kripik salak, kripik kulit tahu, dan gumpur.

Selain itu ada usaha pengolahan minuman khas diantaranya sirup carica, sirup kemar, teh tambi, teh purwaceng, kopi purwaceng, purwaceng susu.

 

C.   PRODUK LAIN

a)     SEKTOR KEHUTANAN

PENGOLAHAN KAYU ALBASIA

Pada awalnya, albasia sebagai hutan rakyat diarahkan sebagai upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah, ternyata hasilnya yang berupa kayu telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sebagai tambahan penghasilan. Kayunya cukup bernilai ekonomi, akrena merupakan bahan yang baik untuk peti kemas, bahan pembuat triplek, bahan korek api, mebel, serta bahan pulep dan kertas, sehingga mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan dalam bentuk hutan tanaman skala besar, karena berguna bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan sekaligus memperbaiki lingkungan hidup. Potensi pengembangan budidaya tanaman albasia di Kabupaten Wonosobo seluas 6.250 Ha, yang tersebar diseluruh kecamatan yang ada, kecuali Kecamatan Kejajar.

Kondisi Eksisting

Kebutuhan kayu sebagai bahan bangunan semakin lama tidak semakin menurun, justru kecenderungannya semakin lama semakin meningkat. Oleh karena itu dibutuhkan tanaman kayu-kayuan yang siklusnya pendek, sehingga dapat mencukupi kebutuhan kayu tersebut. Sengon atau bahasa latinya Paraserianthes falcataria merupakan salah satu tanaman kayu yang sesuai dengan kriteria tersebut, karena bisa dipanen setelah umur 5 tahun. Diwonosobo tanaman ini telah dibudidayakan secara meluas dan bisa memberikan peningkatan pendapatan kepada masyarakat. Kebutuhan akan kayu yang semakin meningkat menyebabkan komoditas ini masih memungkinkan untuk dikembangkan lebih jauh.

Potensi hutan kayu jenis albasia, jemitri, mahoni, dan suren yang cukup produktif di Wonosobo merupakan Hutan Rakyat. Luas lahan saat ini berkisar 18.869 ha dengan rencana pengembangan 6.250 ha. Kapasitas Produksi  2.500.000 m3/thn. Nilai investasi mencapai Rp. 99.135.000.000,-  dan masih sangat memungkinkan berkembang

Hutan tersebut selain dikelola secara profesional oleh para petaninya, juga menjadi lahan produksi yang mampu meningkatkan kualitas hidup warga setempat baik di bidang ekonomi, kesehatan, maupun pendidikannya.

Wilayah Produksi Kecamatan : Leksono,sapuran Dan Wilayah Di Kabupaten Wonosobo Kontinuitas Produksi : 417.047m3/tahun

  

b)     PENGEMBANGAN PEMBANGKIT LISTRIK MIKRO HIDRO (PLTMH)

Mikro hidro merupakan energi alternatif yang sangat ramah lingkungan dan sumber energi yang dapat diperbaharui. Pemanfaatan tenaga hidro sebagai sumber energi alternatif sangat sesuai dengan potensi alam yang dimiliki oleh Kabupaten Wonosobo. Kondisi geografis dan topografis menyebabkan Wonosobo memiliki curah hujan yang cukup tinggi dengan topografis yang cukup curam, sehingga memiliki potensi energi terbarukan dari tenaga air cukup besar.

Pada tahun 2007 telah dilakukan studi kelayakan mikrohidro, termasuk DED  (Detail Engineering Design) beberapa lokasi yang potensial. Salah satu lokasi tersebut, adalah Argopeni. Bangunan sipil utama untuk PLTM Argopeni memanfaatkan aliran irigasi Wanganaji. Dari analisis pada tahap studi optimasi, PLTMH Argopeni menghasilkan potensi  kapasitas  sebesar 495.49 kW,  dimana  kapasitas  ini  diperoleh dari debit air  sebesar 1,14 m3/detik dan tinggi jatuh (head) sebesar 55 m. PLTMH Argopeni memiliki jaringan transmisi 20 kV sepanjang 50 m dengan energi terpasang 3.846.632,48 kWh, terdapat kehilangan energi sebesar 0,0005 % (19.23 kWh). Sumber pendapatan dari proyek ini adalah penjualan listrik ke PLN UPJ Wonosobo, dengan harga jual Rp. 600,-/kWh.

Potensi sumberdaya air di Wonosobo, sebagian besar dimanfaatkan untuk irigasi, pertanian dan air minum. Selama ini sebagian potensi hidro tersebut masih terbuang percuma karena belum dimanfaatkan secara tepat dan berdaya guna.

Salah satu proyek percontohan pembangkit listrik mikro hidro di Wonosobo adalah PLTMH Wanganaji, yang dikelola oleh Koperasi Pondok Pesantren Roudlotul Tolibin. PLTMH Wanganaji memiliki kapasitas 174 kW dan energi listrik yang dihasilkan dijual ke PLN UPJ Wonosobo.Diharapkan dengan dimanfaatkannya potensi PLTMH yang ada di Wonosobo, dapat mensuplai energi ke PLN, yang pada akhirnya dapat mengurangi krisis energi yang terjadi saat ini.

 

 

c)     SEKTOR PERIKANAN

BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR (KERAMBA JARING APUNG)

Selama ini, aktivitas perikanan tangkap mendominasi pembangunan perikanan nasional. Secara politik, kondisi ini memposisikan perikanan darat/perairan umum (sungai, situ, danau dan rawa) sebagai kelas dua, maka aktivitas perikanan darat stagnan.

Pembangunan bidang perikanan di Kabupaten Wonosobo dalam pengertian perikanan darat, memiliki potensi yang besar khususnya kolam air tawar dan karamba jaring apung (KJA). Keberadaan Waduk Wadaslintang, Telaga Menjer, Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu menjadikan Kabupaten Wonosobo memiliki potensi sumberdaya perairan yang cukup besar. Hal ini dapat dikembangkan untuk usaha perikanan secara menyeluruh mulai dari pembenihan, pembesaran, penangkapan maupun pengolahan.

Waduk Wadaslintang berada di dua wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Kebumen (Kecamatan Padureso) dan Wonosobo, tepatnya di Kecamatan Wadaslintang. Letaknya sangat strategis, karena berada di jalur selatan Jawa Tengah. Selain untuk wisata air, waduk dimanfaatkan juga untuk pembangkit listrik, transportasi air dan budidaya ikan nila, dengan karamba jaring apung. Budidaya ikan nila dengan karamba jaring apung di Waduk Wadaslintang (385 unit), mampu menghasilkan ikan konsumsi rata-rata 3.462,810 ton/tahun. Sedangkan di Telaga Menjer (150 unit), budidaya ikan dengan karamba jaring apung baru dikembangkan akhir-akhir ini, dengan komoditas ikan nila, ikan mas dan jenis ikan konsumsi lainnya. Melihat luasan genangan dan pemanfaatan lahan yang ada, masih sangat memungkinkan untuk pengembangan unit karamba jaring apung

 

 

d)     SEKTOR PETERNAKAN

PENGEMBANGAN DAN PELESTARIAN DOMBOS

Pada tahun 1954/1955 Pemerintah mendatangkan 500 Ekor Domba Texel dari Belanda dan dialokasikan ke beberapa daerah di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah (Baturaden Banyumas dan Tawangmangu) dan Jawa Timur, tetapi tidak bisa berkembang. Dari 100 ekor yang dialokasikan di Baturaden tinggal tersisa 5 ekor (1 ekor jantan murni, 1 ekor jantan keturunan dan 3 ekor betina murni). Selanjutnya 5 ekor Domba Texel di Baturaden itu, pada Tahun 1957, dipindahkan oleh Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa tengah, ke Wonosobo, dan berkembang hingga dewasa ini mencapai  populasi 8.753 ekor, yang saat ini lebih dikenal dengan Domba Wonosobo (Dombos)

Domba Texel tergolong ternak unggulan, di samping cepat berkembang biak, juga berpotensi sebagai penghasil daging. Bobot badan dewasa jantan dapat mencapai 100 kg  dan betina 80 kg, dengan karkas sekitar 55 %. Masyarakat Wonosobo, telah merintis usaha penggemukan intensif terhadap domba persilangan texel dengan domba lokal, yang menghasilkan keuntungan memadai.  Selain itu, domba texel dapat menghasilkan bulu wool berkualitas sebanyak 1000 gram/ekor/tahun, yang dapat diolah sebagai komoditas yang mempunyai nilai tambah Investasi yang ditawarkan, yaitu pengembangan dan pelestarian Domwos, dengan lokasi prospektif Kecamatan Kalikajar, Kejajar, Garung, Kertek, dan potensi pengembangan38.143 AU atau sekitar 267.001 ekor.

Kendala pengembangan Dombos berupa tingginya permintaan dari luar daerah yang disinyalir untuk di ekspor ke Malaysia, di satu sisi meningkatkan pamor dan nilai harga Domwos itu sendiri, sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat peternak Domwos maupun masyarakat pedagang Domwos. Namun di sisi lain, bila pengeluaran ke luar daerah tak dikendalikan, bisa mengancam terjadinya pengurasan ternak. Kendala lain, perkembangbiakan Domwos masih tergantung pada kawin alam, berhubung belum terdapatnya produsen frozen semen Domwos. Saat ini sentra Domwos di Wonosobo terdapat di Dusun Klowoh Desa Kwadungan Kecamatan Kalikajar dan Desa Surenggede Kecamatan Kejajar.

 

 

INDUSTRI DAN PERDAGANGAN

 

a.     Industri

Sektor industri di Kabupaten Wonosobo cukup potensial untuk dikembangkan. Berdasarkan unit usaha, industri di Kabupaten Wonosobo yang terbanyak adalah industri gula kelapa, disusul industri anyaman bambu, industri pembuatan tempe, industri anyaman mendong dan industri pembuatan opak. Jika ditinjau dari nilai produksinya, maka industri makanan/minuman lain menempati urutan pertama, diikuti industri makanan, industri teralis dan industri gula kelapa. Pada tahun 2011 jumlah kapasitas nilai produksi sektor industri di Kabupaten Wonosobo mencapai 416,66 milyar rupiah dengan tenaga kerja yang terserap berjumlah 24.231 orang. Adapun jenis produksi yang dihasilkan dari sektor ini meliputi industri pangan, sandang dan kulit, kimia dan industri, kerajinan umum serta logam.

b.     Perdagangan

Nilai ekspor non migas yang berasal dari Kabupaten Wonosobo tahun 2011 sebesar 34.789.774,78 US$ meningkat sebesar 47,94% dibanding tahun 2010. Kontribusi terbesar disumbangkan oleh kayu olahan sebesar 94,21% disusul komoditas teh hijau sebesar 5,14%.

Sedangkan untuk pengembangan infrastruktur perdagangan yang terkait dengan pembangunan dan rehabilitasi pasar sampai tahun 2011 jumlah pasar daerah ada 19 buah dengan daya tampung (kios, los, PKL) sebesar 3.278 buah, sedangkan jumlah pasar desa sampai 2011 ada 39 buah dengan daya tampung (kios, los, PKL) sejumlah 4.331 buah.

c.     Koperasi

Jumlah koperasi di Kabupaten Wonosobo tahun 2011 sebanyak 332 buah dengan jumlah anggota mencapai 38.925 orang. Jenis koperasi terbanyak adalah koperasi serba usaha dan koperasi pegawai negeri masing-masing 67 buah serta koperasi pertanian 46 buah. Jumlah anggota koperasi mencapai 38.925 orang dengan modal usaha 232.796.998 dan volume usaha 331.239.286.

 

 

Produk Domestik regional Bruto (PDRB) menurut Lapangan Usaha,

PDRB/Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Atas Dasar Harga Berlaku

Kabupaten Wonosobo Tahun 2009-2011      (Jutaan Rupiah)

Lapangan Usaha

PDRB ADH Berlaku

2009

2010

2011

1.

Pertanian

1.699.657,09

1.863.379,76

2.050.428,96

 

a.

Tanaman Bahan Makanan

1.206.161,79

1.319.773,55

1.440.488,86

 

b.

Perkebunan

91.890,85

100.500,25

116.750,31

 

c.

Peternakan

256.456,22

285.999,94

318.509,77

 

d.

Kehutanan

118.984,65

128.715,62

143.967,31

 

e.

Perikanan

26.163,59

28.390,40

30.712,71

2.

Pertambangan & Penggalian

21.431,98

22.232,01

23.537,91

 

a.

Pertambangan

0,00

0,00

0,00

 

b.

Penggalian

21.431,98

22.232,01

23.537,91

3.

Industri Pengolahan

378.024,48

392.650,22

431.117,47

 

a.

Industri Besar/Sedang

273.192,84

280.542,84

308.027,13

 

b.

Industri Kecil/Kerajinan Rumah Tangga

104.831,64

112.107,38

123.090,34

4.

Listrik, Gas dan Air Bersih

33.101,80

36.231,24

39.224,59

 

a.

Listrik

28.259,61

30.838,33

33.220,68

 

b.

Air Bersih

4.842,19

5.392,91

6.003,91

5.

Bangunan/Konstruksi

146.478,14

161.143,62

176.687,81

6.

Perdagangan, Hotel & Restoran

439.987,10

482.915,99

531.653,86

 

a.

Perdagangan

401.536,56

441.154,83

486.093,80

 

b.

Hotel

7.380,90

8.051,65

8.767,81

 

c.

Restoran

31.069,64

33.709,50

36.792,26

7.

Angkutan & Komunikasi

231.463,57

253.397,59

276.027,16

 

a.

Angkutan Jalan Raya

207.261,10

226.231,36

245.509,25

 

 

-          Angkutan Jalan Raya

207.261,10

226.231,36

245.509,25

 

 

-          Angkutan Udara

0,00

0,00

0,00

 

b.

Jasa Penunjang Angkutan

148,27

160,00

169,76

 

c.

Komunikasi

24.054,19

27.006,23

30.348,15

 

 

-          Pos & Telekomunikasi

24.054,19

27.006,23

30.348,15

 

 

-          Jasa Penunjang Telekomunikasi

0,00

0,00

0,00

8.

Bank, Lembaga Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

217.061,79

237.918,85

262.783,50

 

a.

Bank

61.679,36

67.764,92

76.437,45

 

b.

Lembaga Keuangan Bukan Bank

19.144,30

21.384,23

24.005,15

 

c.

Sewa Bangunan

134.723,68

147.132,15

160.573,36

 

d.

Jasa Perusahaan

1.514,46

1.637,54

1.767,53

9.

Jasa-jasa

417.006,96

477.411,63

531.793,61

 

a.

Pemerintahan

382.183,11

439.629,52

491.294,27

 

b.

Swasta

34.823,86

37.782,11

40.499,34

 

 

-          Sosial Kemasyarakatan

14.018,19

15.548,84

17.135,98

 

 

-          Hiburan & Rekreasi

694,50

751,99

791,61

 

 

-          Perorangan & Rumah Tangga

20.111,16

21.481,28

22.571,76

PDRB

3.584.212,92

3.927.280,91

4.323.254,88

PDRB per Kapita (Rupiah)

4.553.659,76

5.203.778,08

5.696.040,79

Pertumbuhan Ekonomi (%)

7,57

9,57

10,08

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonosobo , 2012

 

Produk Domestik regional Bruto (PDRB) menurut Lapangan Usaha,

PDRB/Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Atas Dasar Harga Konstan

Kabupaten Wonosobo Tahun 2009-2011 (Jutaan Rupiah)

Lapangan Usaha

PDRB ADH Berlaku

2009

2010

2011

1.

Pertanian

883.489,58

918.463,99

947.303,33

 

a.

Tanaman Bahan Makanan

632.216,04

654.879,73

668.435,74

 

b.

Perkebunan

53.549,72

56.339,66

60.429,92

 

c.

Peternakan

127.124,13

134.306,64

142.485,91

 

d.

Kehutanan

55.199,96

57.054,67

59.468,09

 

e.

Perikanan

15.399,73

15.883,29

16.483,67

2.

Pertambangan & Penggalian

12.433,72

12.461,07

12.518,40

 

a.

Pertambangan

0,00

0,00

0,00

 

b.

Penggalian

12.433,72

12.461,07

12.518,40

3.

Industri Pengolahan

193.794,50

197.825,43

205.659,34

 

a.

Industri Besar/Sedang

130.813,27

132.841,41

137.796,39

 

b.

Industri Kecil/Kerajinan Rumah Tangga

62.981,23

64.984,02

67.862,95

4.

Listrik, Gas dan Air Bersih

12.440,24

13.144,29

13.843,81

 

a.

Listrik

9.971,49

10.457,42

10.937,41

 

b.

Air Bersih

2.468,75

2.686,88

2.906,39

5.

Bangunan/Konstruksi

75.569,28

80.178,24

85.181,36

6.

Perdagangan, Hotel & Restoran

216.650,94

228.138,29

243.104,81

 

a.

Perdagangan

195.356,14

205.870,95

219.520,19

 

b.

Hotel

4.293,18

4.520,95

4.784,97

 

c.

Restoran

17.001,62

17.746,40

18.799,65

7.

Angkutan & Komunikasi

112.488,81

118.686,95

126.888,11

 

a.

Angkutan Jalan Raya

98.982,35

104.020,35

110.621,49

 

 

-          Angkutan Jalan Raya

98.982,35

104.020,35

110.621,49

 

 

-          Angkutan Udara

0,00

0,00

0,00

 

b.

Jasa Penunjang Angkutan

82,11

85,13

88,49

 

c.

Komunikasi

13.424,35

14.581,46

16.178,13

 

 

-          Pos & Telekomunikasi

13.424,35

14.581,46

16.178,13

 

 

-          Jasa Penunjang Telekomunikasi

0,00

0,00

0,00

8.

Bank, Lembaga Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

112.138,48

117.397,77

124.582,45

 

a.

Bank

37.509,71

39.782,43

43.211,67

 

b.

Lembaga Keuangan Bukan Bank

10.917,22

11.639,72

12.449,85

 

c.

Sewa Bangunan

62.851,44

65.076,38

67.982,04

 

d.

Jasa Perusahaan

860,10

899,23

938,89

9.

Jasa-jasa

192.087,12

202.512,24

215.032,56

 

a.

Pemerintahan

175.152,17

184.773,47

196.247,90

 

b.

Swasta

16.934,94

17.738,77

18.784,66

 

 

-          Sosial Kemasyarakatan

7.244,52

7.608,20

8.196,31

 

 

-          Hiburan & Rekreasi

402,23

420,69

438,62

 

 

-          Perorangan & Rumah Tangga

9.288,19

9.709,88

10.149,73

PDRB

1.811.092,67

1.888.808,28

1.974.114,17

PDRB per Kapita (Rupiah)

2.300.951,42

2.502.733,92

2.600.964,92

Pertumbuhan Ekonomi (%)

4,02

4,29

4,52

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonosobo , 2012

 

 

 

 

 

Subscribe to this RSS feed

Log in or create an account


Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/sobokab/website/libraries/joomla/filter/input.php on line 656

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/sobokab/website/libraries/joomla/filter/input.php on line 659